Kamis, 09 Maret 2017

Dongeng Anak


Penyihir Wanita Pertama


Ratu Lucy gelisah. Ia mondar-mandir di depan singgasananya. Gaunnya yang putih bernoda hitam. Tadi, cairan tinta dari penanya memercik ke gaunnya.
Celaka, bisa berantakan acaraku. Sejam lagi ada tamu kerajaan. Dan, aku harus mendampingi Raja untuk menyambutnya," gumam Ratu cemas.
"Melani!!!!" teriak Ratu. Gaun yang bernoda hitam ada dalam pelukannya.
            Seorang gadis cilik berlari-lari menghadap. Ia memberi hormat dan berlutut di depan Ratu.
     "Ratu memanggil hamba?" tanyanya sopan.
     "Tolong bersihkan noda ini, Melani. Cepat lakukan! Sebab, gaun itu akan kupakai untuk menyambut tamu," perintah Ratu.
     "Baik, Ratu," jawab Melani. Kemudian, ia bergegas ke tempat pencucian baju. Melani menyikat noda itu. Tetapi, noda hitam itu tak mau hilang.
     "Aduh, apa yang harus kulakukan?"
     Melani berpikir sesaat. Tiba-tiba ia teringat Boris, tukang sihir.
     "Aku akan meminta Boris membersihkan noda ini," gumamnya. Gadis cilik itu bergegas ke rumah Boris.
     "Boris ... Boris ...." serunya. Tak ada jawaban. Rumah Boris sepi. Melani masuk ke dalamnya. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada buku mantera milik Boris.
     "Bagaimana kalau aku menyihir sendiri? Akan kucari mantera yang sesuai dalam kitab Boris," katanya mempertimbangkan. Melani menghampiri kitab itu. la membalik-balik halamannya. Lembar-lembar kertasnya sudah menguning.
     "Mungkin yang ini ..." katanya.
     Melani membaca mantera itu sekali lagi. Lalu ia menyiapkan sebuah ember. Mengisi ember itu dengan air. Memasukkan serbuk halus ke dalamnya. Mencampurnya dengan air dan mengaduk-aduknya. Kemudian, ia mencelupkan gaun Ratu ke dalam larutan itu.
     "Sim salabim!" serunya sambil mengayunkan tongkat wasiat.
     Hanya sekejap, gaun Ratu berubah warna.
     "Celaka, kenapa warnanya menjadi coklat!" seru Melani panik.
     Melani buru-buru mengeluarkan gaun itu.
     "Aku harus mencari mantera yang lain."
     Melani membuka kitab mantera lagi. la membaca mantera di dalamnya lebih teliti. Tak lama, ia menemukan cara menyihir kelinci hitam menjadi kelinci putih.
     "Mungkin ini bisa kupakai untuk membersihkan noda di gaun Ratu," ujarnya mempertimbangkan. Melani menyiapkan semua perlengkapan. Seember air, serbuk pembersih, dan tongkat wasiat. Ia membuat larutan, mengaduknya sampai berbusa. Kemudian, pelan-pelan ia mencelupkan gaun Ratu ke dalamnya.
     "Malam gelap. Siang terang. Ubahlah gaun ini menjadi berwarna putih," serunya sambil memejamkan mata. Kemudian, ia mengayunkan tongkat sakti di atas ember dan berseru lagi, "Sim salabim!"
     Benar-benar ajaib! Gaun Ratu mendadak berubah menjadi putih bersih. Melani membelalakkan mata. Ia melompat kegirangan, "Hore!!!! Aku berhasil!"
     Melani berlari menemui Ratu.
     "Hamba telah berhasil membersihkan gaun itu, Ratu!"
     Ratu menyambut Melani dengan gembira, katanya, "Kau sungguh pintar Melani. Terima kasih."
     Melani menceritakan bagaimana caranya membersihkan gaun itu. Ratu kagum pada kecerdikannya. Raja yang ada di situ ikut gembira mendengarnya. Juga, Boris si tukang sihir.
     "Setelah Boris pensiun, kau akan kuangkat sebagai penggantinya," tutur Raja.
     "Terima kasih, Paduka," jawab Melani gembira. Betapa tidak? Sebab, dia adalah penyihir wanita yang pertama di kerajaan itu.
                                                                                         Oleh Anita, Sumber : Majalah Bobo

Dongeng Anak



Pemanah yang Sombong

Dua orang pemuda, Arya dan Seta, berguru memanah kepada Resi Bhirawa. Semasa mudanya, Resi Bhirawa adalah pemanah ulung. Setelah tua, ia menyepi di hutan dan mengajarkan ilmunya kepada kedua muridnya itu.
Arya dan Seta sama-sama pemanah berbakat. Sulit menentukan, siapa yang lebih pandai. Keduanya juga rajin berlatih dan selalu patuh kepada Resi.
Hanya watak mereka yang sedikit berbeda. Arya berwatak keras, angkuh, dan sangat ingin menjadi pemanah terbaik. Sebaliknya Seta berwatak lembut, rendah hati, dan selalu menyembunyikan kemampuannya. Setelah merasa cukup memberikan ilmu, Resi Bhirawa berpesan kepada kedua muridnya.
"Muridku, sudah saatnya kalian meninggalkan padepokan ini. Kejarlah cita-cita kalian di luar sana. Pesanku, jadilah orang baik dan selalu membela kebenaran."
Arya dan Seta memberi hormat, dan dengan berat hati meninggalkan gurunya. Arya melanjutkan perjalanan menuju istana kerajaan Kahuripan. Berkat kepandaiannya memanah, ia diterima menjadi prajurit. Tidak lama kemudian ia diangkat sebagai prajurit kepala.
Seta memilih untuk hidup tentram di desa. Ia bertani dan sesekali berburu. Untuk menjaga kemampuannya, ia rajin berlatih memanah.
Suatu ketika, Prabu Awangga, Raja Kahuripan, mengadakan sayembara memanah. Pemenangnya akan menjadi menantu raja. Menjadi suami Putri Dewi Sekar Sari. Sayembara tersebar sampai ke pelosok desa dan negara-negara tetangga.
Sebagai pemanah, Arya sangat yakin akan menjadi pemenang.
 "Tidak akan ada yang sanggup mengalahkan aku!" kata Arya dengan sombong kepada teman-temannya.
Hari perlombaan akhirnya tiba juga. Ribuan rakyat berkumpul di lapangan, menyaksikan jago-jago pemanah bertarung. Para pangeran, panglima, dan orang biasa mempertunjukkan kehebatan memanah. Penonton berdecak kagum dan bersorak-sorak memberi semangat.
Pada akhirnya, memang Arya-lah yang menjadi pemenang. Tak ada yang bisa mengalahkannya. Anak panahnya selalu tepat mengenai sasaran. Penonton bersorak-sorai menyambut kemenangannya.
Perdana Menteri bersiap hendak mengumumkan pemenang sayembara. Namun tiba-tiba ada pemuda yang bersenjata panah, maju ke tengah gelanggang.
"Tunggu!" teriaknya.
Arya terkejut. Pemuda itu adalah Seta, saudara seperguruannya.
"Ada apa anak muda? Kenapa kau menyela pengumumanku?" tanya Perdana Menteri agak marah.
Seta menghaturkan sembah. "Ampun Perdana Menteri. Nama hamba Seta. Hamba ingin bertanding dengan sang juara. Apakah masih diperkenankan?" tanya Seta tenang.
Perdana Menteri berunding dengan petinggi yang lain. Akhirnya, Seta diijinkan bertanding dengan Arya. Kedua pemuda itu dengan gagah beriring menuju lapangan. Arya berjalan dengan sombong, sementara Seta tampak tenang dan rendah hati.
Di babak pertama, mereka membidik sasaran di papan yang bergaris lingkar. Pada babak ini nilai keduanya sama-sama imbang. Di babak kedua, mereka membidik sasaran burung yang terbang. Lagi-lagi keduanya tidak ada yang kalah.
Pada babak terakhir, keduanya disuruh menentukan jenis pertandingan.
 Arya memilih sasaran buah apel yang diletakkan di atas kepala peserta secara bergantian. Penonton berdebar-debar. Namun kembali keduanya berhasil memanah secara tepat.
"Sekarang giliranmu Seta! Tentukan sasaran yang harus dipanah!" tegas Arya.
Seta kemudian meminta dua batang bambu yang sama besar dan panjangnya. Kedua batang bambu digantung di dahan pohon, di atas kolam yang jernih. Separuh batang bambu di atas air, separuhnya di dalam air. Di dalam air, terlihat batang bambu menjadi bengkok.
"Bidiklah bambu di dalam air. Anak panah yang menancap pada bambu, adalah pemenangnya," jelas Seta. Kedua pemanah bersiap-siap menunggu aba-aba. Setelah aba-aba dibunyikan, secepat kilat mereka membidik sasaran. Anak panah Arya menuju bayangan bambu yang bengkok. Sementara Seta membidik daerah yang sejajar dengan bambu di permukaan air.
Ketika bambu diangkat, ternyata anak panah Seta menancap pada sasaran. Sedangkan anak panah Arya meleset. Para penonton berseru terkejut.
 Arya terlihat lemas dan kecewa. Namun, sebagai ksatria ia mengakui kemenangan Seta dan memberikan selamat.
"Selamat atas kemenanganmu. Bagaimana kau dapat membidik dengan tepat?" tanya Arya.
"Dengan ilmu dan kebijaksanaan," bisik Seta. "Kadang pandangan mata bisa menipu. Karena itu jangan selalu melihat sesuatu dari luarnya."
Arya menganggukkan kepala. Kini ia berjanji tidak sombong dan membanggakan diri.
Seta akhirnya menjadi menantu Raja Awangga. Ia tetap hidup rendah hati dan bahagia dengan istrinya. Arya diangkat menjadi panglima kerajaan dan menikah dengan adik Putri Sekar Sari, yaitu Putri Intan Sari. Kedua pemanah itu menjadi pelindung kerajaan yang membanggakan seluruh negeri Kahuripan. 
                                                                              Rahmat Siswoko. Sumber : Majalah Bobo

Selasa, 10 September 2013

Jika Aku Seorang Pemimpin

JIKA AKU SEORANG PEMIMPIN


A.    PENDAHULUAN
Sesungguhnya teori manajemen itu ada sejak para pelaku usaha berkecimpung memikirkan upaya terbaik dalam aktivitas manajemen tertuang dalam sejarah perkembangan manajemen dalam kurun waktu tertentu. Manajemen adalah praktik melaksanakan usaha terbaik sehingga dari sejarah pemikiran manajemen kita dapat belajar dari kegagalan dan keberhasilan orang-orang terdahulu yang menerapkan konsep manajemen berdasarkan pemikiran pada kurun waktu tertentu dengan kasus tertentu pula.
Dalam pendidikan, manajemen itu dapat diartikan sebagai aktivitas memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya. Dipilih manajemen sebagai aktivitas, bukan sebagai individu, agar konsisten dengan istilah administrasi dengan administrator sebagai pelaksananya dan supervisi dengan supervisor sebagai pelaksananya. Kepala sekolah bisa berperan sebagai administrator dalam mengemban misi atasan, sebagai manajer dalam memadukan sumber-sumber pendidikan, dan sebagai supervisor dalam membina guru-guru pada proses belajar mengajar.

B.     RUMUSAN  MASALAH
Dalam makalah “Jika Aku Seorang Pemimpin” ini akan dibicarakan mengenai beberapa permasalahan dengan rumusan masalah sebagai berikut :
1.         Apa saja teori manajemen itu?
2.         Apa yang dimaksud dengan leadership?
3.         Bagaimanakah peran guru sebagai manajer?
4.         Apa yang akan dilakukan “Jika Aku Menjadi Seorang Pemimpin (Kepala Sekolah)?”

PEMBAHASAN

A.  TEORI MANAJEMEN
Secara keilmuan, manajemen baru terumuskan kurang lebih di abad 18 atau awal abad 19 Masehi. Diantara tokoh-tokoh yang mula-mula memperkenalkan manajemen secara keilmuan adalah Robert Owen (1771-1858) dan Charles Babbage (1972-1871). Owen seorang pembaru dan indrustrialisasi dari Inggris adalah di antara tokoh pertama yang menyatakan perlunya sumber daya manusia di dalam organisasi dan kesejahteraan pekerja. Sedangkan Babbage seorang ahli matematika dari Inggris orang yang pertama kali berbicara mengenai pentingnya efisiensi dalam proses produksi. Dia meyakini akan perlunya pembagian kerja dan perlunya penggunaan matematika dalam efisiensi penggunaan fasilitas dan material produksi (Ernie dan Saefullah: 2005). Dengan demikian bisa dikatakan Robert Owen dan Charles Babbage adalah pionir dalam ilmu manajemen.
Ilmu pengetahuan terdiri atas seperangkat teori dalam bidang tertentu.  Teori berfungsi untuk membaca kenyataan empiris.  Fakta empiris yang sama dapat diceritakan oleh beberapa orang dengan cara yang berbeda-beda sesuai dengan kacamata teori yang digunakan. Tanpa teori, kita tidak akan dapat melihat peristiwa empiris, sebaliknya tanpa berhadapan dengan peristiwa-peristiwa empiris, suatu teori lumpuh. 
Berikut ini adalah macam-macam teori manajemen :
1.    Teori Manajemen Aliran Klasik (1890-1930)
Menurut Tim Dosen (2009) Frederick W Taylor, Henry L Gantt, Frank Bunker Gillberth dan Lilian Gillberth adalah tokoh-tokoh dibalik teori manajemen ilimiah. Mereka memikirkan suatu cara meningkatkan produktivitas dengan menangani kondisi kekurangan tenaga terampil melalui efisiensi para pekerja.
Taylor disebut sebagai “bapak manajemen ilmiah” dengan karyanya “scientific management” yang telah memberikan prinsip-prinsip dasar penerapan pendekatan ilmiah pada manajemen, dan mengembangkan sejumlah teknik-tekniknya untuk mencapai efisiensi. Empat prinsip dasar yang dikembangkan Taylor adalah:
1.      Pengembangan metode ilimah alam manajemen agar suatu perkejaan dapat ditentukan metode pencapaian tujuannya secara maksimal.
2.      Seleksi ilmiah untuk karyawan agar para karyawan dapat diberika tugas dan tanggung jawab sesuai keahlian.
3.      Pendidikan dan pengembangan karyawan.
4.      Kerjasama yang harmonis antara manajemen dan para karyawan.
   Teknik yang digunakan untuk melaksanakan prinsip tersebut adalah melalui studi gerak dan waktu (time and motion studies), pengawasan fungsional, system tariff berbeda yaitu karyawan yang lebih produktif dan efisien mendapatkna gaji lebih besar dari yang lainnya. Kontribusi terbesar dari Gantt adalah dengan menghasilkan metode grafik sebagai teknik scheduling produksi untu perencanaan, koordinasi dan pengawasan produksi yang popular dengan sebutan “Bagan Gantt”.
2.    Teori manajemen ilmiah (Scientific Manajement, 1911) oleh Fredrick Winslow Taylor (Amerika); (Charles Babbage, On the economy of machinery and manufactures, 1832)
Prinsipnya pembagian kerja berdasarkan keterampilan (waktu dan tenaga dapat dihemat bila prinsip pembagian kerja diterapkan dalam produksi), mempelajari kebiasaan kerja pegawai dan menganalisisnya; seleksi pegawai secara ilmiah; kerjasama antara pengawas dan pegawai; dan pembagian tanggung jawab antara manajemen dan pegawai secara wajar.
Manajemen ilmiah itu berhubungan dengan manajemen inisiatif dan insentif; penghematan dalam mendidik pekerja yang magang; penghematan pemakaian material belajar; menghemat waktu dan menghindari perpindahan tempat kerja; menghemat waktu dalam tukar menukar alat kerja; keterampilan mengerjakan pekerjaan dengan sistem berulang; pembagian tugas pekerjaan, mengganti pekerjaan tangan manusia dengan mesin.
Scientific Management, memfokuskan unit analisisnya pada kegiatan pisik pekerjaan (hubungan pegawai dan pekerjaannya/manusia dan alat/mesin). Tujuan utamanya memperbaiki tugas pekerjaan rutin dan yang bersifat repetitive. Pendekatannya bersifat empiris, induktif dan melakukan penelitian terperinci terhadap pekerjaan untuk menentukan bagaimana yang paling efisien suatu pekerjaan harus dilakukan. Sasaran utamanya adalah organisasi tingkat bawah (operasional/bengkel kerja). Pandangannya bersifat mikro dan orientasinya botton up (dari tingkat bawah organisasi ke tingkat atas).
3.    Teori Neoklasik
      (Hugo Munstenberg, Chester I. Barnard, Argyris, Elton Mayo dkk) dengan pendekatan : Teoritis dan Empiris
Human relations movement (pendekatan hubungan kemanusiaan), setiap orang berbeda, mempunyai keunikan tersendiri sesuai dengan keadaan, sikap, kepercayaan dan motivasi hidup masing-masing. Dalam bekerja, manusia tidak mungkin terlepas dari keunikan, tetapi akan mempengaruhi tindakan dan cara berfikir. Faktor yang mendekatkan orang satu sama lain adalah faktor kesamaan (daerah, kegemaran, profesi, kepercayaan dan ideologi). Keakraban hubungan akan terwujud dalam bentuk organisasi informal yang selalu membayangi organisasi formal. Elemen-elemennya yaitu, individu, kelompok kerja (organisasi informal), manajemen partisipatif, tujuan dilaksanakan Human Relations kepuasan psikologis pegawai, moral tinggi, disiplin tinggi, loyalitas tinggi, dan motivasi tinggi.
4.    Teori Modern (dikembangkan tahun 1950-an)
Karakteristik Teori Modern kadang-kadang disebut analisis sistem organisasi; mempertimbangkan semua elemen organisasi; memandang organisasi sebagai suatu system; penyesuaian diri agar organisasi itu dapat bertahan lama dalam hidupnya; harus disesuaikan dengan perubahan lingkungannya; organisasi dan lingkungannya harus dilihat sebagai sesuatu yang saling ketergantungan. 
Kontributor Teori Modern:
v Alfred Korzybski, 1933, General Sementics (manusia hidup dalam tiga dunia yang berbeda, yaitu dunia peristiwa, dunia objek dan dunia simbol, menitik beratkan masalah bahasa dan komunikasi, topik: ringkasan, penyimpulan, kekakuan bahasa, lingkungan komunikasi, sifat kata-kata, dan pentingnya tanggapan).
v Mary Parker Follet, 1920-an (keseimbangan antara perhatian individu dan organisasi; mengerjakan sesuatu sebagai jalan keluar dalam suatu semangat kerja sama; kesadaran cita-cita sehingga setiap orang adalah bagian dari suatu kelompok; dan masyarakat; dorongan individu diterima tanpa mengorbankan kepentingan organisasi).
v Chester I. Barnard, 1938 (organisasi sebagai suatu sistem sosial yang dinamis; individu, organisasi, penyalur, dan konsumen merupakan bagian dari lingkungan organisasi; aspek organisasi formal dan informal),
v Norbert Wiener, 1948 (menemukan sibernetika=orang=pengemudi, pengendalian sistem pada pengaruh arus balik informasi; menunjang perkembangan komputer eletronik, penggunaan komputer dalam proses pengawasan, suatu sistem terdiri atas input, proses, output, arus balik, dan lingkungan).
v Ludwig Von Bertalanffy, (organisasi sebagai masalah yang utama bagi seluruh kehidupan; kedinamikan, sistem, interaksional multidimensional, multi level; suatu sistem dilihat sebagai suatu kumpulan dari bagian-bagian yang saling berhubungan; suatu organisasi dalam pandangan yang modern merupakan suatu sistem).
Sifat teori modern yaitu memandang suatu organisasi sebagai suatu sistem yang terdiri atas lima bagian pokok, yaitu: input, proses, output, arus balik, dan lingkungan; kedinamisan, multi level dan multi dimensional; multi motivasi; multi disipliner; despkriptif; multi variable; dan  adaptif (www.pasamankab.go.id).
5.    Pendekatan Kontingensi atau Pendekatan Situasional (1950-sekarang)
            Pendekatan kontingensi atau pendekatan situasional adalah suatu aliran teori manajemen yang menekankan pada situasi atau kondisi tertentu yang dihadapi. Tidak seluruh metode manajemen ilmiah dapat diterapkan untuk seluruh situasi begitupun tidak selalu hubungan manusiawi yang perlu ditekankan karena adakalanya pemecahan yang efektif melalui pendekatan kauantitatif. Itu semua sangat tergantung pada karakteristik situasi yang dihadapi dan tujuan yang ingin dicapai.
6.    Teori TQM
Total Quality Manajement merupakan suatu pedekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus menerus atas produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungannya. Gerakan TQM di mulai dibidang industri di Amerika Serikat antara pada tahun 1920 s/d 1940 dan di Jepang pada sekitar tahun 1950. tokohnya antara lain Deming, Sheward, dan Juran yang menyatakan bahwa mulailah dengan apa yang diinginkan pelanggan, selain organisasi juga memiliki standar yang tinggi. Berdasarkan ide tersebut, Jepang mengembangkannya dan ternyata berhasil. Keberhasilan ini dianggap suatu revolusi dalam bidang manajemen.
Organisasi  yang bermutu adalah organisasi yang harus dekat dengan pelanggan, memiliki obsesi mutu, memiliki birokrasi berdasarkan aktivitas dan antusias anggota. Keberhasilan dalam menerapkan TQM (Jepang) juga dapat dilihat dari faktor budaya kerja, sikap terhadap mutu, kompetisi untuk menguasai pasar, dan mengembangkan sikap inovasi dan menumbuhkan motivasi anggota/karyawan.

B.  LEADERSHIP
Guna menyikapi tantangan globalisasi, di beberapa negara telah berupaya untuk melakukan revitalisasi pendidikan. Revitalisasi ini termasuk pula dalam hal perubahan paradigma kepemimpinan pendidikan, terutama dalam hal pola hubungan atasan-bawahan, yang semula bersifat hierarkis-komando menuju ke arah kemitraan bersama. Pada hubungan yang bersifat hierarkis-komando, seringkali menempatkan bawahan sebagai objek tanpa daya. Pemaksaan kehendak dan pragmatis merupakan sikap dan perilaku yang kerap kali mewarnai kepemimpinan komando-birokratik-hierarkis, yang pada akhirnya hal ini berakibat terbelenggunya sikap inovatif dan kreatif dari setiap bawahan. Dalam melaksanakan tugas dan kewajiban, mereka cenderung bersikap apriori dan bertindak hanya atas dasar perintah sang pemimpin semata. Dengan kondisi demikian, pada akhirnya akan sulit dicapai kinerja yang unggul.
Dalam hal ini, Larry Lashway (ERIC Digest, No. 96) mengetengahkan tentang Facilitative Leadership. yang pada intinya merupakan kepemimpinan yang menitikberatkan pada collaboration dan empowerment. Sementara itu, David Conley and Paul Goldman (1994) mendefinisikan facilitative leadership sebagai : “the behaviors that enhance the collective ability of a school to adapt, solve problems, and improve performance.” Kata kuncinya terletak pada collective. Artinya, keberhasilan pendidikan bukanlah merupakan hasil dan ditentukan oleh karya perseorangan, namun justru merupakan karya dari team work yang cerdas.
Dengan model kepemimpinan demikian, diharapkan dapat mendorong seluruh bawahan dan seluruh anggota organisasi dapat memberdayakan dirinya, dan membentuk rasa tanggung atas tugas-tugas yang diembannya. Kepatuhan tidak lagi didasarkan pada kontrol eksternal organisasi, namun justru berkembang dari hati sanubari yang disertai dengan pertimbangan rasionalnya. Kepemimpinan fasilitatif merupakan alternatif model kepemimpinan yang dibutuhkan guna menghadapi tantangan masa depan abad ke-21, yang pada intinya model ini merujuk kepada upaya pemberdayaan setiap komponen manusia yang terlibat dan bertanggung jawab dalam pendidikan.
Paul M. Terry mengemukakan bahwa untuk dapat memberdayakan setiap individu dalam tingkat persekolahan, kepala sekolah seyogyanya dapat menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pemberdayaan (create an environment conducive to empowerment), memperlihatkan idealisme pemberdayaan (demonstrates empowerment ideals), penghargaan terhadap segala usaha pemberdayaan (encourages all endeavors toward empowerment) dan penghargaan terhadap segala keberhasilan pemberdayaan (applauds all empowerment successes).
Upaya pemberdayaan bukanlah hal yang sederhana, melainkan di dalamnya membutuhkan kerja keras dan kesungguhan dari pemimpin agar anggotanya tumbuh dan berkembang menjadi individu yang berdaya. Jika saja seorang pemimpin sudah mampu memberdayakan seluruh anggotanya maka di sana akan tumbuh dinamika organisasi yang diwarnai dengan pemikiran kreatif dan inovatif dari setiap anggotanya. Mereka dapat mengekspresikan dan mengaktualisasikan dirinya secara leluasa tanpa hambatan sosio-psikologis yang membelenggunya. Semua akan bekerja dengan disertai rasa tanggung jawab profesionalnya. (http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/10/).
Seorang kepala sekolah, di samping harus mampu melaksanakan proses manajemen, juga dituntut untuk memahami sekaligus menerapkan seluruh substansi kegiatan pendidikan. Kepala sekolah dituntut untuk memiliki kemampuan: (1) menjabarkan sumber daya sekolah untuk mendukung pelaksanaan proses belajar mengajar, (2) kepala administrasi, (3) sebagai manajer perencanaan dan pemimpin pengajaran, dan (4) mempunyai tugas untuk mengatur, mengorganisir dan memimpin seluruh pelaksanaan tugas pendidikan di sekolah.
Akhmad S (2008) mengemukakan tentang pemikiran Bogdan bahwa dalam perspektif peningkatan mutu pendidikan terdapat empat kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin pendidikan, yaitu : (1) kemampuan mengorganisasikan dan membantu staf di dalam merumuskan perbaikan pengajaran di sekolah dalam bentuk program yang lengkap; (2) kemampuan untuk membangkitkan dan memupuk kepercayaan pada diri sendiri dari guru-guru dan anggota staf sekolah lainnya; (3) kemampuan untuk membina dan memupuk kerja sama dalam mengajukan dan melaksanakan program-program supervisi; dan (4) kemampuan untuk mendorong dan membimbing guru-guru serta segenap staf sekolah lainnya agar mereka dengan penuh kerelaan dan tanggung jawab berpartisipasi secara aktif pada setiap usaha-usaha sekolah untuk mencapai tujuan-tujuan sekolah itu sebaik-baiknya.
Hal serupa dikemukakan oleh Kantz dalam Segiovanni bahwa dalam keseluruhan mekanisme kerja manajemen sekolah sebagai proses sosial, mengemukan tiga jenis keterampilan yang seyogyanya dimiliki oleh kepala sekolah, yaitu : (1) keterampilan teknis, yakni keterampilan yang berhubungan dengan pengetahuan, metode, dan teknik-teknik tertentu dalam menyelesaikan tugas-tugas tertentu; (2) keterampilan manusiawi yakni keterampilan yang menunjukkan kemampuan seorang manajer di dalam bekerja dengan orang lain secara efektif dan efisien; (3) keterampilan konseptual yakni keterampilan yang berkenaan dengan cara kepala sekolah memandang sekolah, keterkaitan sekolah dengan struktur di atasnya dan dengan pranata-pranata kemasyarakatan, serta program kerja sekolah secara keseluruhan.
Dilain pihak, Fred Luthans (1995) mengemukakan lima jenis keterampilan yang dibutuhkan oleh seorang manajer, yang mencakup : (1) Cultural flexibility; (2) Communication skills (3) Human Resources Development skills ; (4) Creativity ; dan (5) Self Management of learning.
Cultural flexibility merupakan keterampilan yang merujuk kepada kesadaran dan kepekaan budaya, di mana seorang manajer dituntut untuk dapat menghargai nilai keberagaman kultur yang ada di dalam organisasinya. Communication skill merupakan keterampilan manajer yang berkenaan dengan kemampuan untuk berkomunikasi, baik dalam bentuk lisan, tulisan maupun non verbal. Komunikasi yang efektif akan sangat membantu terhadap keberhasilan organisasi secara keseluruhan. Human Resources Development skills merupakan keterampilan manajer yang berkenaan dengan pengembangan iklim pembelajaran (learning climate), mendesain program pelatihan, pengembangan informasi dan pengalaman kerja, penilaian kinerja, penyediaan konseling karier, menciptakan perubahan organisasi, dan penyesuaian bahan-bahan pembelajaran. Creativity merupakan keterampilan manajer yang tidak hanya berkenaan dengan pengembangan kreativitas dirinya sendiri, akan tetapi juga keterampilan untuk menyediakan iklim yang mendorong semua orang untuk menjadi kreatif. Self- management of learning merupakan keterampilan manajer yang merujuk kepada kebutuhan akan belajar yang berkesinambungan untuk mendapatkan berbagai pengetahuan dan keterampilan baru. Dalam hal ini, kepala sekolah dituntut untuk senantiasa berusaha memperbaharui pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. (http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/05/02/)
Berdasarkan hasil studi yang telah dilakukannya, Southern Regional Education Board (SREB) telah mengidentifikasi 13 faktor kritis terkait dengan keberhasilan kepala sekolah dalam mengembangkan prestasi belajar siswa. Ketigabelas faktor tersebut adalah:
  1. Menciptakan misi yang terfokus pada upaya peningkatan prestasi belajar siswa, melalui praktik kurikulum dan pembelajaran yang memungkinkan terciptanya peningkatan prestasi belajar siswa.
  2. Ekspektasi yang tinggi bagi semua siswa dalam mempelajari bahan pelajaran pada level yang lebih tinggi.
  3. Menghargai dan mendorong implementasi praktik pembelajaran yang baik, sehingga dapat memotivasi dan meningkatkan prestasi belajar siswa.
  4. Memahami bagaimana memimpin organisasi sekolah, dimana seluruh guru dan staf dapat memahami dan peduli terhadap siswanya.
  5. Memanfaatkan data untuk memprakarsai upaya peningkatan prestasi belajar siswa dan praktik pendidikan di sekolah maupun di kelas secara terus menerus.
  6. Menjaga agar setiap orang dapat memfokuskan pada prestasi belajar siswa.
  7. Menjadikan para orang tua sebagai mitra dan membangun kolaborasi untuk kepentingan pendidikan siswa.
  8. Memahami proses perubahan dan memiliki kepemimpinan untuk dapat mengelola dan memfasilitasi perubahan tersebut secara efektif.
  9. Memahami bagaimana orang dewasa belajar (baca: guru dan staf) serta mengetahui bagaimana upaya meningkatkan perubahan yang bermakna sehingga terbentuk kualitas pengembangan profesi secara berkelanjutan untuk kepentingan siswa.
  10. Memanfaatkan dan mengelola waktu untuk mencapai tujuan dan sasaran peningkatan sekolah melalui cara-cara yang inovatif.
  11. Memperoleh dan memanfaatkan berbagai sumber daya secara bijak.
  12. Mencari dan memperoleh dukungan dari pemerintah, tokoh masyarakat dan orang tua untuk berbagai agenda peningkatan sekolah.
  13. Belajar secara terus menerus dan bekerja sama dengan rekan sejawat untuk mengembangkan riset baru dan berbagai praktik pendidikan yang telah terbukti. (http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/03/20/menjadi-kepala-sekolah-yang-efektif/)

C.  GURU ADALAH SEORANG MANAJER
Peran guru di sekolah tidak hanya sebagai tenaga pendidik, tetapi juga sebagai motivator, informator, mediator, dan fasilitator. Guru lebih sering berkomunikasi dan bertatap muka langsung dengan siswa sehingga guru lebih mengetahui kemampuan siswanya. Dibandingkan orang tua, guru lebih tahu seberapa jauh kemampuan anak didiknya dalam mengikuti pelajaran, karenanya guru tidak hanya sebatas menjelaskan materi pelajaran yang diampunya tetapi juga harus memotivasi anak didiknya agar tetap semangat belajar dan tidak mudah putus asa. Komunikasi yang baik antara guru dan siswa pasti akan menjadikan suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan, sehingga semua siswa juga tidak akan merasa bosan mengikuti pelajaran. Perhatian guru kepada siswa juga menjadi semangat tersendiri bagi siswa untuk tetap rajin belajar.
Guru adalah sebagai seorang manajer di dalam organisasi kelas. Sebagai seorang manajer, aktivitas guru mencakup kegiatan merencanakan, mengorganisasi, memimpin, dan mengevaluasi hasil kegiatan belajar mengajar yang dikelolanya. Tujuan profesional guru adalah melakukan kegiatan mengajar, dan selanjutnya murid memberikan respon-respon yang disebut belajar. Interaksi kedua kegiatan ini mencakup mengajar dan belajar di dalam kelas disebut proses pengajaran.
Peranan guru sebagai manajer dalam proses pengajaran antara lain merencanakan: menyusun tujuan pengajaran; mengorganisasikan: menghubungkan seluruh sumber daya belajar-mengajar; memimpin: memberi motivasi para peserta didik; dan mengawasi: apakah kegiatan itu mencapai tujuan.
Peran guru sebagai manajer melakukan pembelajaran adalah proses mengarahkan anak didik untuk melakukan kegiatan dalam rangka perubahan tingkah laku (kognitif, afektif dan psikomotorik) menuju kedewasaan. Pembelajaran efektif hanya ada pada sekolah yang efektif. Karena itu, inti kegiatan sekolah adalah kegiatan belajar mengajar efektif, untuk melahirkan lulusan (outcome) yang memiliki kepribadian yang baik. Sekolah yang efektif memiliki unsur utama yaitu kepemimpinan, lingkungan sekolah, kurikulum, pengajaran di kelas, dan penilaian.
Muara dari berfungsinya dengan baik pengelolaan pembelajaran adalah pembelajaran efektif. Artinya dari posisi guru tercipta mengajar efektif dan dari segi murid tercipta belajar efektif. Guru yang berhasil adalah mengajar murid bagaimana memiliki informasi dalam pembicaraan dan membuatnya menjadi milik mereka. Sedangkan pelajar efektif adalah membentuk informasi, gagasan dan kebijaksanaan dari guru mereka dan mengunakan sumber daya belajar secara efektif. Di sini peran utama dalam pengajaran adalah menciptakan pembelajaran yang kuat atau tangguh. Intinya, adalah proses pembelajaran dipahami sebagai penataan lingkungan yang di dalamnya para pelajar dapat berinteraksi dan belajar bagaimana cara belajar.
Dalam penerapan metode ilmiah, penemuan, siswa dilatih untuk terbiasa melakukan pengamatan, membuat hipotesis, memunculkan prediksi, menyaji hipotesis, memecahkan masalah, mencari jawaban sendiri, menggunakan kejadian, meneliti, berdialog, melakukan refleksi, mengungkapkan pertanyaan dan mengekspresikan gagasan selama proses pembentukan kontruksi pengetahuan yang baru.
Selain mengajar dan mendidik siswanya, guru juga merupakan orang tua kedua di sekolah. Guru diharapkan dapat membantu siswanya dalam menyelesaikan berbagai masalah yang dialami siswanya. Cara yang konstruktif dalam membantu murid menyelesaikan masalahnya misalnya dengan melakukan hal-hal berikut :
1.      Mendengar pasif (Diam). Hal ini merupakan pesan nonverbal yang kuat yang membuat murid merasa diterima dengan tulus dan mendorongnya mengungkapkan masalah dengan lebih dalam.
2.      Respon Pengakuan. Isyarat non verbal (mengangguk, mengerutkan dahi, tersenyum) dan isyarat verbal (”Oh”, “Saya tahu”) memberitahu murid bahwa anda benar mendengarkan dan menyatakan bahwa anda masih memperhatikan dan anda tertarik (empati).
3.      Kunci Pembuka, Ajakan untuk Bicara. Hal ini memberikan dorongan tambahan agar murid berbicara lebih banyak, lebih dalam atau bahkan untuk mulai berbicara.
4.      Mendengar Aktif (Umpan Balik). Membuktikan bahwa pendengar mengerti. Perlu diperhatikan bahwa apa yang dikatakan murid sering merupakan pesan yang telah disandikan. Dengan mendengar aktif murid dan anda akan tahu bahwa pesan yang disampaikan telah diterima dengan benar, dan tidak hanya merespon sandinya saja.
Keberhasilan guru dalam melaksanakan pembelajaran bukan ditentukan oleh satu faktor saja, akan tetapi oleh berbagai faktor internal dan eksternal sekolah. Hubungan ini ada tiga perlakuan yang harus dilakukan adalah membuat perencanaan yang baik, komunikasi efektif / pesan yang disampaikan dipahami, dan mengusahakan dengan kesungguhan dan pengharapan tinggi agar siswa memiliki prestasi tinggi.
Pembelajaran akan memikat hati siswa apabila mereka diperintahkan sesuai hal berikut ini, yaitu menyampaikan informasi dalam bahasa mereka (jelas), memberikan contoh tentang hal-hal tersebut, memperkenalkannya dalam berbagai arahan dan keadaan, melihat hubungan antara informasi dan fakta atau gagasan lainnya, membuat kegunaannya dalam berbagai cara, memperhatikan beberapa konsekuensi informasi tersebut, dan menyatakan perbedaan informasi itu dengan lainnya.
Pembelajaran efektif ialah mengajar prinsip, prosedur dan desain sehingga tercapai tujuan perubahan tingkah laku anak, sedangkan belajar aktif yang dilakukan siswa adalah belajar yang melibatkan seluruh unsur fisik dan psychis untuk mengoptimalkan pengembangan potensi anak. Karena itu, pembelajaran aktif yang efektif adalah yang memenuhi multi tujuan, multi metode, multimedia/sumber dan pengembangan diri anak.
1.      Pentingnya perencanaan dibuat oleh guru
Perencanaan dapat mengurangi kecemasan ketidakpastian, memberikan pengalaman pembelajaran bagi guru, membolehkan para guru untuk mengakomodasi perbedaan individu pada murid, dan  memberikan struktur dan arah untuk pembelajaran. Selain dari itu, guru melakukan perencanaan pembelajaran untuk menganalisis kebutuhan pendidikan dan pelatihan, mengidentifikasi kebutuhan pelatihan / belajar, menulis tujuan belajar (merumuskan tujuan), memilih strategi pembelajaran, perbaikan dan penyesuaian, pelaksanaan program, dan monitoring program.
2.      Pengorganisasian
Pengorganisasian dalam pembelajaran adalah pekerjaan yang dilakukan guru dalam mengatur dan menggunakan dunia belajar dengan maksud mencapai tujuan belajar dengan cara yang efektif dan efisien, yakni memilih alat taktik yang tepat (metode), memilih alat bantu belajar atau audiovisual yang tepat, memilih besarya kelas (jumlah murid), dan memilih strategi yang tepat. Pengelolaan kelas meliputi pengolahan yang berkaitan dengan siswa dan berkaitan dengan fisik (ruangan, perabot).
3.      Kepemimpinan pengajaran
Peran guru dalam pembelajaran adalah memperkokoh motivasi siswa dan memilih strategi mengajar yang tepat. Motivasi adalah kebutuhan atau keinginan untuk melakukan sesuatu dan meliputi kebutuhan psikologi, kebutuhan rasa aman, kebutuhan social,  kebutuhan harga diri, dan kebutuhan aktualisasi diri.
4.      Mengevaluasi pengajaran
Fungsi Evaluasi adalah untuk diagnostik dan pengembangan, untuk seleksi jabatan dan jurusan, untuk kenaikan kelas, dan untuk penempatan. Manfaat evaluasi pengajaran yaitu mengukur kompetensi atau kapabilitas, menentukan tujuan mana yang belum direalisasikan, merumuskan rangking siswa dalam hal prestasi, memberikan informasi guru tentang cacah / strategi, dan merencanakan prosedur untuk memperbaiki rencana pembelajaran; pengayaan dan remedial. (http://yayang08.wordpress.com/).
Keempat fungsi di atas harus dimiliki oleh seorang guru sebagai manajer di dalam kelas, hal ini juga memberikan kemungkinan terhadap perbaikan menyeluruh, efektifitas dan mutu pengalaman belajar murid. Hal inilah yang harus dikembangkan dalam pribadi seorang guru. guru dituntut memiliki perencanaan yang matang sebelum proses belajar mengajar dilaksanakan, mampu mengelola atau mengorganisasikan kelas dengan baik agar tercipta suasana kondusif, mengawasi dan menjalankan tugas sebagai pengajar secara professional dan mempunyai jiwa pemimpin dalam membawa murid-muridnya menuju tercapainya tujuan dalam pendidikan yang diselenggarakan.
Guru yang baik adalah guru yang dapat membawa murid-muridnya mencapai tujuan dalam belajar, namun secara luas guru harus mempunyai sikap dan sifat untuk menjadi seorang guru yang baik. sekurang-kurangnya ada 8 sikap dan sifat yang penting bagi seorang guru, sifat ini sangat menentukan dalam berhasil tidaknya proses belajar, kedelapan sikap dan sifat ini adalah adil, percaya dan suka kepada murid-muridnya, sabar dan rela berkorban, memiliki pembawa (gezag) terhadap anak-anak, bersikap baik terhadap guru-guru lainnya, bersikap baik terhadap masyarakat, menguasai mata pelajaran, dan berpengetahuan luas.
Kedelapan sikap di atas akan sangat membantu guru sebagai pengelola dan manajer dalam kelas, untuk itu sikap dan sifat di atas perlu dimiliki guru untuk menjadi seorang manajer dan pengelola yang handal di bidang pendidikan. Untuk itu ada beberapa prinsip umum cerminan guru yang baik, di antaranya guru yang baik memahami dan menghormati murid-muridnya; harus menghormati bahan pelajaran yang diberikannya; menyesuaikan metode mengajar dengan bahan pelajaran; menyesuaikan bahan pelajaran dengan kesanggupan individu; mengaktifkan murid dalam hal belajar; memberi pengertian dan bukan hanya kata-kata belaka; mampu menghubungkan pelajaran dengan kebutuhan murid; mempunyai tujuan pada tiap pelajaran yang diberikan; jangan terikat satu buku pelajaran (text book); dan tidak hanya mengajar saja namun senantiasa mengembangkan pribadi anak.
Inilah tugas berat seorang guru karena pendidikan tidak hanya membentuk intelektualitas saja namun lebih dari itu. Pengetahuan harus dikendalikan oleh norma-norma etis, terlebih dalam era modern ini. Mengajar adalah tugas manusia yang paling agung, kebudayaan merupakan perlombaan antara pendidikan dengan malapetaka, tanpa norma-norma manusia akan hancur oleh keunggulannya, di sinilah guru mengambil perannya sebagai pendidik dalam mendidik bangsa dan negara.

D.  JIKA AKU SEORANG PEMIMPIN (KEPALA SEKOLAH)
Menurut Slamet L (2009) pemimpin pendidikan perlu memiliki integrasi ketrampilan teknis, pedagogis, professional dan manajerial, sebagaimana Hughes (1988) uraikan sebagai ’professional-as-administrator’ yang mencakup dualitas peran sebagai pimpinan eksekutif (chief executive) dan memimpin secara profesional (leading professional), dalam aspek internal maupun eksternal. Dari beberapa hasil riset, diidentifikasi bahwa kombinasi kepemimpinan kepala sekolah yang profesional, harapan tinggi (partisipasi) warga sekolah, dan budaya sekolah yang positif merupakan faktor penentu efektivitas sekolah.
Menurut Duignan & Macpherson efektivitas sekolah menekankan pentingnya apa yang terjadi di dalam kelas dan kepemimpinan pendidikan yang menyediakan suatu kultur di dalam proses belajar mengajar, oleh karenanya, pemimpin pendidikan memiliki tanggung jawab untuk menciptakan kultur organisasi yang mempertinggi pengembangan dan pertumbuhan organisasi (Bush & Coleman, 2000). Kualitas yang diidentifikasi oleh Duignan dan Macpherson pada pemimpin pendidikan (educative leader), serupa dengan pemimpin transformational, yang menekankan pada pemimpin yang mendorong dan memberdayakan tanggung jawab bawahan dengan:
  1. Menciptakan peluang untuk peserta (partisipan) dalam proses perubahan untuk merefleksikan praktek mereka dan mengembangkan pemahaman pribadi menyangkut implikasi dan perubahan diri mereka;
  2. Mendorong mereka yang terlibat dalam implementasi suatu peningkatan untuk membentuk kelompok sosial dan menyediakan dukungan timbal balik sepanjang proses perubahan;
  3. Menyediakan peluang umpan balik positif untuk semua yang terlibat dalam perubahan;
  4. Sensitip pada hasil pengembangan proses dan menyediakan kondisi-kondisi penting bagi umpan balik dan tindak lanjut sehingga yang terlibat memiliki kesempatan mendiskusikan dan memikirkan kembali gagasan dan praktek mereka.
Fiedler (1997) mencatat implikasi di atas untuk kepemimpinan pengajaran mencakup: 1) Mengelola pengajaran dan kurikulum; 2) Pengawasan pengajaran; 3) Monitoring kemajuan siswa; dan 4) Menyediakan iklim mengajar yang mengajar.
Secara garis besar pemimpin pendidikan memiliki tiga peran utama: bidang kepemimpinan, managerial, dan kurikulum-pengajaran. Peran kepemimpinan kepala sekolah adalah kepala sekolah merupakan kunci dalam membentuk kultur sekolah. Kepala sekolah harus dapat membentuk budaya positif, di mana staf berbagi pengertian, dan memiliki dedikasi untuk peningkatan sekolah dan pengajaran. Kepala sekolah harus dapat menjalin hubungan dengan kelompok, internal dan eksternal sekolah, seperti (1) pengawas dan pengelola pendidikan pusat, (2) dewan sekolah, (3) teman sejawat, (4) orang tua, (5) masyarakat sekitar, (6) guru, (7) siswa, dan (8) kelompok eksternal seperti profesor, konsultan, badan akreditasi, dan sebagainya. Kepala sekolah yang efektif perlu untuk percaya pada kemampuan diri dan mampu mensinergikan persepsi, harapan, maupun kemampuan berbagai kelompok tersebut dapat memberi dukungan terhadap kemajuan sekolah.
Peran manajerial kepala sekolah merupakan aspek utama kepemimpinan sekolah. Ketrampilan manajemen dibagi dalam tiga area utama: (1) teknis (technical), mencakup teknik proses manajemen (perencanaan, pengaturan, koordinasi, pengawasan, dan pengendalian), (2) manusia (human), ketrampilan hubungan antar manusia, memotivasi dan membangun moral, (3) konseptual (conceptual), menekankan pengetahuan dan teknis terkait jasa (atau produk) tentang organisasi. Kepala sekolah harus "memimpin dari pusat" (lead from the centre): demokratis, mendelegasikan tanggung-jawab, memberi kuasa dalam pengambilan keputusan, dan mengembangkan usaha kolaboratif yang mengikat siswa, guru, dan orang tua.
Bidang kurikulum-pengajaran hendaknya menjadi prioritas kerja utama kepala sekolah sehingga dapat meningkatan mutu pendidikan di sekolahnya. Murphy mengembangkan enam peran kepala sekolah dibidang kurikulum dan pengajaran, yaitu: (1) menjamin kualitas pengajaran, (2) mengawasi dan mengevaluasi pengajaran, (3) mengalokasi dan melindungi waktu pengajaran, (4) mengkoordinir kurikulum, (5) memastikan isi matapelajaran tersampaikan, dan (6) monitoring kemajuan siswa. Menurut Murphy, enam peran tersebut menggambarkan suatu contoh kepala sekolah efektif.
Untuk menghadapi tantangan dan permasalahan pendidikan nasional yang amat berat saat ini, pendidikan harus dipegang oleh para manajer dan pemimpin yang sanggup menghadapi berbagai tantangan dan permasalahan yang ada, baik pada level makro maupun mikro di sekolah. Jika saya seorang pemimpin, saya akan memimpin sesuai profil manajer dan pemimpin yang dibutuhkan saat ini yaitu :
1.    Mampu menginspirasi melalui antusiasme yang menular.
Manajer (pemimpin) pendidikan harus dapat menunjukkan semangat dan kesungguhan di dalam melaksanakan segenap tugas dan pekerjaanya, kemudian ditularkan kepada semua orang dalam organisasi, sehingga mereka pun dapat bekerja dengan penuh semangat dan besungguh-sungguh.
2.    Memiliki standar etika dan integritas yang tinggi.
Pendidikan adalah usaha untuk menciptakan manusia-manusia yang memiliki standar etika dan kejujuran yang tinggi. Oleh karena itu, pendidikan sudah seharusnya dipegang oleh para manajer (pemimpin) yang memiliki standar etika dan kejujuran yang tinggi, sehingga pada gilirannya semua orang dalam organisasi dapat memiliki standar etika dan kejujuran yang tinggi.
3.    Memiliki tingkat energi yang tinggi.
Kegagalan pendidikan adalah kegagalan kelanjutan suatu generasi. Untuk mengurusi pendidikan dibutuhkan energi dan motivasi yang tinggi dari para manajer dan pemimpin pendidikan. Pendidikan membutuhkan manajer (pemimpin) yang memiliki ketabahan, daya tahan (endurance) dan pengorbanan yang tinggi dalam mengelola pendidikan.
4.    Memiliki keberanian dan komitmen
Pendidikan dihadapkan pada lingkungan yang selalu berubah-ubah, yang menuntut keberanian dari para pemimpin pendidikan untuk melakukan perubahan agar bisa beradaptasi dengan tuntutan perubahan yang ada, dan memiliki komitmen tinggi terhadap pekerjaannya. Kehadirannya sebagai manajer (pemimpin) benar-benar dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi kemajuan organisasi, yang didasari rasa kecintaannya terhadap pendidikan.
5.    Memiliki tingkat kreativitas yang tinggi dan bersikap nonkonvensional.
Pemimpin pendidikan yang memiliki kreativitas tinggi akan mendorong terjadinya berbagai inovasi dalam praktik-praktik pendidikan, baik pada tataran manjerialnya itu sendiri maupun inovasi dalam praktik pembelajaran siswa.
6.    Berorientasi pada tujuan, namun realistis
Pemimpin pendidikan harus memahami tujuan-tujuan pendidikan, segenap usaha organisasi harus diarahkan pada pencapaian tujuan pendidikan yang disusun secara realistis, dengan ekspektasi yang terjangkau oleh organisasi, tidak terlalu rendah dan juga tidak terlalu tinggi.
7.    Memiliki kemampuan organisasi yang tinggi
Kegiatan pendidikan adalah kegiatan yang melibatkan banyak komponen, yang di dalamnya membutuhkan upaya pengorganisasian secara tepat dan memadai. Dalam mengoptimalkan sumber daya manusia yang ada, kurikulum dan pembelajaran, sumber dana, dan lingkungan harus diorganisasikan sedemikian rupa.
8.    Mampu menyusun prioritas
Kemampuan manajer (pemimpin) pendidikan dalam menyusun prioritas akan terkait dengan efektivitas dan efisiensi pendidikan.
9.    Mendorong kerja sama tim dan tidak mementingkan diri sendiri, upaya yang terorganisasi.
Manajer (pemimpin) pendidikan harus dapat bekerjasama dengan berbagai pihak, baik yang berada dalam lingkungan internal maupun eksternal. Demikian pula, manajer (pemimpin) pendidikan harus dapat mendorong para bawahannya agar dapat bekerjasama dengan membentuk team work yang kompak dan cerdas, sekaligus dapat meletakkan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi.
10.  Memiliki kepercayaan diri dan memiliki minat tinggi akan pengetahuan.
Masalah dan tantangan pendidikan yang tidak sederhana, menuntut para manajer (pemimpin) pendidikan dapat memiliki keyakinan diri yang kuat, memiliki keyakinan bahwa apa yang dilakukannya dapat dipertanggungjawabkan secara hukum, sosial, moral maupun intelektual serta harus memiliki minat yang tinggi akan pengetahuan, baik pengetahuan tentang manajerial, perkembangan pendidikan bahkan pengetahuan umum lainnya.
11.    Sesuai dan waspada secara mental maupun fisik.
Tugas dan pekerjaan manajerial pendidikan yang kompleks membutuhkan kesiapan dan ketangguhan secara mental maupun fisik dari para manajer pendidikan. Manajer (pemimpin) pendidikan harus dapat menjaga dan memelihara kesehatan fisik dan mentalnya secara prima dan memperhatikan kesehatan mental dan fisik dari seluruh anggota dalam organisasinya.
12.  Bersikap adil dan menghargai orang lain.
Dalam organisasi pendidikan melibatkan banyak orang yang beragam karakteristiknya, dalam kepribadian, keyakinan, cara pandang, pengetahuan, keterampilan, pengalaman dan sebagainya. Kesemuanya itu harus dapat diperlakukan dan ditempatkan secara proporsional oleh manajer (pemimpin).
13.  Menghargai kreativitas
Pemikiran kreatif biasanya berbeda dengan cara-cara berfikir pada umumnya. Dalam hal ini, manajer (pemimpin) pendidikan harus dapat mengakomodasi pemikiran-pemikiran kreatif dari setiap orang dalam organisasi, yang mungkin saja pemikiran-pemikiran itu berbeda dengan sudut pandang yang dimilikinya.
14.  Menikmati pengambilan resiko.
Manajer (pemimpin) pendidikan harus tetap menunjukkan ketenangan, keyakinan dan berusaha mengendalikan resiko-resiko yang muncul. Jika memang harus berhadapan dengan sebuah kegagalan, manajer (pemimpin) pendidikan harus tetap dapat menunjukkan tanggung jawabnya, tanpa harus mencari kambing hitam dari kegagalan tersebut.
15.    Menyusun pertumbuhan jangka panjang
Kegiatan pendidikan bukanlah kegiatan sesaat, tetapi memiliki dimensi waktu yang jauh ke depan. Seorang manajer (pemimpin) pendidikan memang dituntut untuk membuktikan hasil-hasil kerja yang telah dicapai pada masa kepemimpinannya, tetapi juga harus dapat memberikan landasan yang kokoh bagi perkembangan organisasi, jauh ke depan setelah dia menyelesaikan masa jabatannya.
16.  Terbuka terhadap tantangan dan pertanyaan.
Menjadi manajer (pemimpin) pendidikan berarti dia akan dihadapkan pada sejumlah tantangan dan permasalahan yang harus dihadapi, merentang dari yang sifatnya ringan hingga sangat berat sekali. Semua itu bukan untuk dihindari atau ditunda-tunda tetapi untuk diselesaikan secara tuntas.
17.  Tidak takut untuk menantang dan mempertanyakan.
Selain harus mampu menyelesaikan masalah-masalah yang sudah ada (current problems) secara tuntas, seorang manajer (pemimpin) pendidikan harus memiliki keberanian untuk memunculkan tantangan dan permasalahan baru, yang mencerminkan inovasi dalam organisasi untuk kemajuan organisasi.
18.  Mendorong pemahaman yang mendalam untuk banyak orang.
Kegiatan pendidikan menuntut setiap orang dalam organisasi dapat memahami tujuan, isi dan strategi yang hendak dikembangkan dalam organisasi. Manajer (pemimpin) pendidikan berkewajiban memastikan bahwa setiap orang dalam organisasi dapat memahaminya secara jelas, sehingga setiap orang dapat memamahi peran, tanggung jawab dan kontribusinya masing-masing dalam organisasi.
19.  Terbuka terhadap ide-ide dan pandangan baru.
Pendidikan harus banyak melahirkan berbagai inovasi yang tidak hanya dibutuhkan untuk kepentingan pendidikan itu sendiri tetapi juga kepentingan di luar pendidikan. Untuk dapat melahirkan inovasi, manajer (pemimpin) pendidikan harus terbuka dengan ide-ide dan pandangan baru, baik yang datang dari internal maupun eksternal, terutama ide dan pandangan yang bersumber dari para pengguna jasa (customer) pendidikan.
20.  Mengakui kesalahan dan beradaptasi untuk berubah.
Jika melakukan suatu kesalahan, seorang manajer (pemimpin) pendidikan harus memiliki keberanian untuk mengakui kesalahannya tanpa harus mengorbankan pihak lain atau mencari kambing hitam. Lakukan evaluasi dan perbaikilah kesalahan pada masa-masa yang akan datang.

PENUTUP

            Seorang guru berperan dalam menentukan keberhasilan belajar siswa siswanya. Melihat betapa penting dan vitalnya peran seorang guru maka guru dituntut profesionalitasnya. Profesionalisme guru merupakan keharusan. Ini mencakup segala aspek dan yang harus dipahami bahwa guru merupakan manajer di dalam kelas, berhasil tidaknya situasi belajar di kelas sangat dipengaruhi oleh manajer yang baik dalam mengelola kelas. Guru sebagai manajer kelas mempunyai fungsi pokok yang harus dijalankan, fungsi tersebut yakni fungsi perencanaan, fungsi pengorganisasian, fungsi pengawasan dan fungsi kepemimpinan. Apabila keempat fungsi ini dapat dijalankan dengan baik maka setidaknya sudah setengah keberhasilan diperoleh guru dalam mengajar. oleh karena itu sebagai guru yang baik harus dapat menjalankan keempat fungsi di atas sebagai manajer di kelas.
Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu menginspirasi melalui antusiasme yang menular, memiliki standar etika dan integritas yang tinggi, memiliki tingkat energi yang tinggi, memiliki keberanian dan komitmen, memiliki tingkat kreativitas yang tinggi dan bersikap,  berorientasi pada tujuan, namun realistis, memiliki kemampuan organisasi yang tinggi, mampu menyusun prioritas, mendorong kerja sama tim dan tidak mementingkan diri sendiri, upaya yang terorganisasi, memiliki kepercayaan diri dan memiliki minat tinggi akan pengetahuan, sesuai dan waspada secara mental maupun fisik, bersikap adil dan menghargai orang lain, menghargai kreativitas, menikmati pengambilan resiko, menyusun pertumbuhan jangka panjang, terbuka terhadap tantangan dan pertanyaan, tidak takut untuk menantang dan mempertanyakan, mendorong pemahaman yang mendalam untuk banyak orang, terbuka terhadap ide-ide dan pandangan baru, dan mengakui kesalahan dan beradaptasi untuk berubah.



DAFTAR PUSTAKA

--------------- 2010. Teori Organisasi Publik, dan Organisasi Manajemen Pemerintahan Diakses dari http://www.pasamankab.go.id pada tanggal 2 Desember 2010.

Akhmad Sudrajat. 2008. Kemampuan Manajerial Kepala Sekolah. Diakses dari http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/05/02/kemampuan-manajerial-kepala-sekolah/ pada tanggal 2 Desember 2010

Akhmad Sudrajat. 2008. Kepemimpinan Pendidikan. Diakses dari http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/10/kepemimpinan-pendidikan// pada tanggal 2 Desember 2010.

Akhmad Sudrajat. 2008. Menjadi Kepala Sekolah yang Efektif. Diakses dari  http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/03/20/menjadi-kepala-sekolah-yang-efektif/ pada tanggal 2 Desember 2010.

Akhmad Sudrajat. 2008. Profil Manajer dan Pemimpin Pendidikan yang Dibutuhkan Saat Ini. Diakses dari http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/04/28/20-profil-manajer-dan-pemimpin-pendidikan-yang-dibutuhkan-saat-ini/ pada tanggal 2 Desember 2010.

Ira Damayanti. 2009. Peranan Guru Sebagai Manajer. Diakses dari http://yayang08.wordpress.com/ pada tanggal 2 Desember 2010.

Najm el Habeb. 2010. Guru Manajer Dalam Pengajaran. Diakses dari http://ktp09003.wordpress.com/2010/04/09/guru-manajer-dalam-pengajaran/ padas tanggal 2 Desember 2010.

Slamet Lestari. 2009. Perspektif Kepemimpinan Pendidikan Untuk Sekolah Efektif. Tanpa kota:IKIP

Tim Dosen Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia. 2009. Manajemen Pendidikan. Bandung: Alfabeta.